BASisme Blog

All About Jongga With The Idea of Law, Stories, Issues and Games

KRITIK SINETRON RELIGIUS DAN MISTIK

KRITIK SINETRON RELIGIUS DAN MISTIK

Oleh: Bajongga Aprianto


Sinetron bernuansa religius atau mistik belakangan ini menjadi marak di layar kaca stasiun televisi Indonesia terutama yang disiarkan oleh stasiun televisi swasta yang sangat identik dengan usaha komersial, karena sinetron – sinetron bernuansa religius atau mistik dianggap potensial untuk meningkatkan keuntungan finansial yang mereka dapatkan seperti pendapatan dari sponsor atau iklan dan juga keuntungan non-finansial yang sangat mempengaruhi eksistensi stasiun televisi yang menayangkannya seperti memperkuat image sebagai stasiun televisi favorit masyarakat.

Hal yang demikian tersebut terjadi karena memang budaya bangsa Indonesia yang identik dengan hal-hal yang berbau religius atau mistik sehingga masyarakat Indonesia-pun akan tetap tertarik, walaupun di Indonesia sendiri kemajuan di bidang ilmu dan teknologi telah berkembang cukup pesat karena pengaruh modernisasi yang mendunia. Dengan kata lain sudah menjadi ciri khas dari masyarakat Indonesia yang memang selalu tertarik dengan hal-hal yang berbau religius atau mistik, karena hal tersebut telah melekat pada budaya bangsa Indonesia sudah ada sejak lama dan terpelihara hingga sekarang.

Sedangkan pihak penyiar (korporasi) yaitu pemilik stasiun televisi, khususnya stasiun televisi swasta, selaku pengusaha yang menjalankan usahanya dengan mengeluarkan produk-produk non-barang seperti informasi dan entertainment, berupaya untuk dapat menyajikan tayangan-tayangan yang mana dapat menarik perhatian penonton selaku konsumen stasiun televisi, agar stasiun televisi miliknya menjadi stasiun televisi favorit penonton.

Jika stasiun televisi milik penyiar menjadi favorit penonton maka akan semakin banyak pihak-pihak tertentu yang ingin menggunakan jasa yang ditawarkan oleh stasiun televisi milik penyiar berupa penayangan iklan suatu produk atau penayangan informasi tertentu, hal itu berarti sama dengan meningkatnya keuntungan yang di dapat stasiun televisi. Walaupun keuntungan tersebut bisa juga digunakan seperti untuk peningkatan mutu dari stasiun televisi miliknya, tetapi satu hal yang pasti seiring meningkatnya keuntungan tersebut bagi pihak penyiar yaitu peningkatan kesejahteraan daripada pihak penyiar itu sendiri, terlepas meningkat/tidaknya kesejahteraan dari pihak yang ikut membantu penyiar (para pekerja yang membantu penyiar dalam usahanya tersebut), karena hal itu bergantung dari kebijaksanaan pihak penyiar.

Dengan demikian maka penyiar berusaha mencari hal-hal apa saja yang dikiranya bisa dimanfaatkan dari yang ada di masyarakat untuk dieksploitasikan dengan bentuk semenarik mungkin untuk ditayangkan kepada penonton sehingga penonton tertarik dan mengikutinya secara terus-menerus, dimana nantinya berpengaruh terhadap image dari masyarakat bahwa stasiun televisi milik penyiarlah yang menjadi pilihan pertama penonton begitu duduk untuk menonton televisi dan itulah maksud penyiar.

Sekarang ini salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia-lah yang sedang dieksploitasikan oleh penyiar (religius dan mistik) dimana dibuat dengan bentuk yang bermacam-macam baik reality show, sinetron, dan lainnya, dengan ciri mutlak dari masing-masing bentuk tersebut yaitu harus dikemas semenarik mungkin agar dalam penyiarannya kepada penonton dapat bersaing dengan tayangan lainnya yang mempunyai tema dan bentuk yang berbeda atau mungkin yang sama dari stasiun televisi lain dalam memperebutkan image sebagai stasiun televisi favorit dari penonton.

Dengan kata lain penyiar berusaha memanfaatkan suatu keadaan dalam menjalankan usahanya tersebut demi kepentingan-kepentingan egois penyiar yang tersembunyi, bahkan demi terlaksananya suatu kondisi-kondisi yang berpotensi untuk menguntungkan penyiar, penyiar melalui stasiun televisi-nya rela mengorbankan sisi-sisi kemanusiaan dalam program-program yang ditayangkannya.

Suatu bentuk dari program stasiun televisi yang ingin dikometari adalah sinetron-sinetron yang bernuansa religius dan mistik, seperti Misteri Illahi, Hidayah, Maha Kasih, dan sebagainya, dimana kesemuanya itu berbasis pada kejadian-kejadian irasional, yang tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu sisi lain dari kebudayaan masyarakat tradisional Indonesia.

Sinetron-sinetron bernuansa religius atau mistik yang ada saat ini merupakan hasil karya suatu production house yang nantinya ditayangkan oleh stasiun televisi, tetapi karena adanya persaingan antar stasiun televisi menyebabkan suatu stasiun televisi hanya mau menerima sinetron dengan kemasan menarik untuk ditayangkan, sehingga production house yang membuat sinetron tersebut menjadikan sisi kemenarikan kemasan sinetron sebagai prioritas pertama dibandingkan sisi-sisi lainnya seperti nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia, kebenaran dari tema cerita yang diangkat, dampak bagi penonton yang menyaksikan khususnya pola pikir penonton, atau sisi-sisi lainnya, bahkan berdasarkan sinetron-sinetron yang ada saat ini dapat terlihat bahwa pengenyampingan sisi-sisi lain tersebut demi kemenarikan suatu sinetron.

Bahkan sinetron-sinetron yang bernuansa religius dan mistik (irasional) yang sedang “booming” belakangan ini dapat dikatakan telah menimbulkan kekacauan pada kelogisan ajaran agama, dimana tema yang ingin diangkat dan di bangun dalam sinetron-sinetron tersebut tidak lagi mendasarkan diri pada pendekatan kebenaran ajaran agama atau mungkin karena jika mendasarkan diri pada pendekatan kebenaran ajaran agama justru menjadikan sinetron tersebut tidak lagi menarik, sehingga sengaja dikorbankan.

Dalam sinetron-sinetron yang bernuansa religius menimbulkan kesan-kesan bahwa Tuhan itu kejam, menakutkan, dan semena-mena, bahkan cenderung aneh dalam menghukum orang berdosa di dunia ini baik ketika hidup maupun saat menjelang ajal atau saat lainnya; padahal yang sedemikian itu jusru mengahancurkan keyakinan kita tentang surga dan neraka dari ajaran agama, karena buat apa ada neraka jika Tuhan telah melakukan hukuman terhadap orang berdosa pada saat di dunia dan buat apa ada surga jika Tuhan telah memberi kemuliaan terhadap orang baik pada saat di dunia, bukankah segala amal kebaikan kita akan diperhitungkan Tuhan setelah kita meninggal.

Selain itu juga dalam sinetron-sinetron yang bernuansa mistik terdapat pandangan mengenai agama yang dimaknakan sebagai tameng manusia dari mahluk halus sedangkan pemuka agama adalah orang suci dan bermoral tinggi, yang memiliki senjata berupa mantra-mantra ajaib yang terdapat dalam Kitab Suci yang digambarkan sebagai Kitab keramat guna mengusir mahluk halus, sehingga yang terlihat justru kelicikan manusia yang dapat memanfaatkan Tuhan melalui seorang pemuka agama seperti Kyai, Pandita, atau Pastor, atau terkadang oleh tokoh-tokoh utama dalam sinetron tersebut dengan pengucapan ayat-ayat Kitab Suci hanya untuk mengusir mahluk halus buruk rupa yang sering menakut-nakuti manusia semata, tanpa ada pesan-pesan moral dari ajaran agama yang coba diangkat dan dibangun dalam sinetron-sinetron tersebut.

Akibat dari yang sedemikian di atas sangat berdampak terhadap kesalahpahaman terhadap ajaran agama bagi penonton yang menikmati sinetron-sinetron yang sedemikian tersebut (tentu berakibat lain pula terhadap penonton yang bersikap kritis). Karena tiap-tiap penonton yang menikmatinya tentu punya penafsiran tersendiri dari apa yang ditontonnya tersebut sehingga tanpa disadari terdapat potensi kecenderungan yang akan menciptakan kesalahpemahaman dari suatu ajaran agama. Bahkan lebih jauh lagi, jika penafsiran dari apa yang ditontonnya diyakini sebagai benar dan di internalisasikan akan dapat mempangaruhi pola pikirnya dalam memandang ajaran agama, sehingga dapat menimbulkan kesimpangsiuran pemahaman ajaran agama dalam masyarakat.

Selain itu juga maraknya sinetron-sinetron irrasional pada layar kaca belakangan ini juga dapat berdampak pada pola pikir masyarakat Indonesia yang belum seutuhnya menerima modernisasi, hal ini terlihat dari masih banyaknya tradisi-tradisi dan dogma-dogma yang terpelihara pada masyarakat Indonesia, salah satu penyebab terpeliharanya tradisi-tradisi atau dogma-dogma dalam masyarakat adalah maraknya stasiun televisi dalam menayangkan hal-hal yang irrasional yang merupakan peng-eksploitasi-an dari sisi lain kebudayaan Indonesia, hanya demi kepentingan egois pihak penyiar.

Padahal salah satu ciri modernisasi adalah rasionalisme yaitu kepercayaan pada kekuatan akal budi manusia maksudnya agar semua claim dan wewenang dapat dipertanggungjawabkan secara argumentatif, dengan tidak mengandaikan kepercayaan dan pra-pengandaian tertentu, dengan kata lain yang dapat diuniversalisasikan, hal ini terlihat pada masyarakat modern yang tidak lagi terlalu mengalami ketergantungan dari alam. Sehingga keberadaan sinetron-sinetron irrasional tersebut justru bertentangan dan menghambat usaha penciptaan masyarakat Indonesia ke arah masyarakat yang modern.

Pentingnya usaha penciptaan masyarakat Indonesia yang masih diliputi tradisi-tradisi yang mempunyai dasar-dasar tidak rasional ke arah masyarakat Indonesia yang modern adalah agar dapat terselenggaranya pembangunan yang sedang diselenggarakan pemerintah demi mencapai kesejahteraan rakyat Indonesia yang di cita-citakan. Tanpa adanya kesiapan dari masyarakat terhadap pentingnya suatu penyelenggaraan pembangunan yang sekaligus cirikhas dari modernisasi maka pembangunan yang usung pemerintah dengan gencar selama ini akan menjadi sia-sia, karena bagaimana bisa dilakukan pembangunan jika yang melakukan pembangunan justru orang-orang yang takut terhadap pembangunan.

Dalam hal ini jika kesimpangsiuran terhadap ajaran agama dalam masyarakat dan terpeliharanya tradisi-tradisi yang menghambat modernisasi pada masyarakat Indonesia, yang diakibatkan oleh maraknya sinetron-sinetron bernuansa religius atau mistik terus dibiarkan, maka akan berakibat pada manusia-manusia Indonesia yang justru mengarahkan diri pada pemeliharaan paham tradisional (statusquo) dan anti perubahan dan pembangunan, sehingga berdampak pada semakin jauhnya bahwa akan tercipta masyarakat yang sejahtera dan semakin tertinggalnya negara Indonesia dari negara-negara lain dalam perkembangan berbagai aspek kehidupan.

Atas dasar itulah diharapkan peran serta pemerintah dalam melakukan pengawasan-pengawasan terhadap hal-hal yang bisa menghambat proses pembangunan seperti kasus yang diungkap diatas, apalagi era sekarang ini televisi sudah menjadi kebutuhan yang dianggap pokok bagi masyarakat. Serta atas dasar yang sama sebaiknya Production House mengurangi sinetron yang bernuansa irasional karena bagaimana pun hal-hal irasional berpotensi besar terhadap terhadap implikasi negatif bagi terwujudnya masyarakat modern, di mana masyarakat modern mempunyai andil atau peranan penting dalam pembangunan.

Sedangkan bagi stasiun televisi milik penyiar swasta dalam menjalankan usahanya sebaiknya tidak mengeksploitasikan hal-hal yang irasional, dengan kata lain eksploitasikan saja hal-hal lain yang lebih rasional tetapi tetapi memperhatikan sisi dampak dan akibatnya terhadap penonton selaku pihak konsumen. Sebagai penonton sebaiknya bersikap kritis terhadap apa yang ditonton, demi perlindungan diri anda sendiri terhadap zaman yang memang mengarah kepadanya butuhnya orang-orang yang tidak menggunakan baju pelindung pengetahuan dalam menjalani hidupnya, sebagai mangsanya (korban zaman).

Penulis, Jakarta 2005

(BASisme1484)

Filed under: My Write, , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Visitor Online

Blog Stats

  • 84,009 hits

RSS Up Date News

RSS Lowongan Kerja Terbaru

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

antivirus 2009

My Polling

%d bloggers like this: