BASisme Blog

All About Jongga With The Idea of Law, Stories, Issues and Games

TUHAN ADALAH FISIKA KUANTUM ?

Komunitas Ruang Baca Tempo

Edisi Oktober 2006

minggu | 12 | 11 | 2006 | 19:12

TUHAN ADALAH FISIKA KUANTUM ?


“Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan Bumi.”

–Kejadian I:1

“Tetapi, tak ada seorang pun yang melihatnya.”

–Steven Weinberg, (The First Three Minutes, 1977)

Setiap kejadian menuntut suatu sebab. Tidak ada

rangkaian tak terhingga dari sebab, sehingga mesti

ada suatu “sebab pertama” bagi sesuatu. Dan sebab

itu adalah Tuhan. Samuel Clarke dalam buku A

Demonstration of the Being and Attributes of God

(1978) menyatakan bahwa “tak ada yang lebih absurd

daripada menduga bahwa sesuatu ada, bukannya

tiada.”

Keyakinan bahwa jagad raya sebagai keseluruhan

mesti memiliki sebab, dan sebab itu adalah Tuhan,

diucapkan pertama kali oleh Plato dan Aristoteles.

Pemikiran sains-religius ini selanjutnya

dikembangkan oleh Thomas Aquinas serta mencapai

bentuk yang meyakinkan oleh Gottfried Wilhelm van

Leibniz dan Samuel Clarke pada abad ke-18.

Pemikiran ini dikenal sebagai argumen kosmologis,

yakni argumen kausal dan argumen kontingensi.

Argumen kosmologis dibicarakan dengan skeptisisme

oleh David Hume dan Immanuel Kant, yang kemudian

diserang secara sengit oleh Bertrand Russell.

Sasaran argumen kosmologis berlapis dua. Pertama,

menegakkan eksistensi “penggerak pertama”, wujud

yang menerangkan eksistensi dunia. Kedua,

membuktikan bahwa wujud ini adalah Tuhan (God)

sebagaimana dipahami oleh para teolog dalam

doktrin Yudeo-Kristiani.

Dalam kehidupan, kita jarang meragukan bahwa

seluruh kejadian alam semesta ini disebabkan

dengan cara tertentu. Misalnya, sebuah jembatan

ambruk karena jembatan tersebut kelebihan beban,

salju mencair karena panas matahari, dan sebatang

pohon tumbuh karena sebutir biji telah ditanamkan.

Lalu, adakah sebuah benda tidak memiliki sebab?

Paul Davies, guru besar Fisika Teori pada

Universitas New Castle-upon-Tyne, Inggris, dan

penulis buku God and the New Physics (1987),

menyatakan bahwa banyak ide baru bermunculan di

garis depan fisika dasar: teori superstring dan

pendekatan lain terhadap apa yang disebut Teori

tentang Segala Sesuatu (Theories of Everything),

dan kosmologi kuantum sebagai sarana untuk

menjelaskan bagaimana alam semesta dapat muncul

dari tiada (The Mind of God: The Scientific Basis

for a Rational World, 1993).

Di samping itu, telah muncul perhatian luar biasa

terhadap apa yang secara sederhana dapat

dilukiskan sebagai titik-perjumpaan sains

kontemporer dan agama. Pemikiran ini memperoleh

dua bentuk yang berbeda. Pertama, dialog yang

berkembang pesat antara ilmuwan, filsuf, dan

teolog mengenai konsep penciptaan dan isu-isu

terkait. Kedua, mode yang sedang berkembang dalam

pemikiran mistik dan filsafat Timur, yang telah

diklaim oleh beberapa komentator sebagai membuat

kontak yang dalam dan bermakna dengan fisika dasar.

Kendati agama secara intrinsik memiliki unsur yang

abadi, suci, dan final, pemahaman serta penafsiran

atasnya bersifat terbuka dan manusiawi. Desakan

untuk menafsirkan agama secara demikian itu

semakin diintensifkan oleh kemajuan sains dan

teknologi. Sains dan teknologi telah memunculkan

tantangan serius terhadap pandangan agama. Teologi

klasik akan terlihat usang jika bersikeras

mempertahankan doktrinnya tanpa mengupayakan

tanggapan baru yang bersifat kreatif dan progresif.

Untuk itu, Profesor Ian G. Barbour, guru besar

Fisika dan juga guru besar Teologi pada Carleton

College, Amerika Serikat, mengajukan “teologi

proses” sebagai jalan untuk mendobrak kebekuan

pemikiran keagamaan dalam berinteraksi dengan

sains kontemporer. Dengan mengambil ilham dari

“filsafat proses” Whitehead, Barbour melalui buku

Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama

berupaya mengintegrasikan konsep sains kontemporer

dengan agama. Dengan cara inilah, manusia

diharapkan dapat lebih mengenal Tuhannya, alam

semesta, dan hakikat dirinya sendiri, juga

hubungan antara ketiganya.

Kekuatan buku ini terletak pada upaya penulis

dalam mengintegrasikan karakteristik teori ilmiah

yang fundamental dengan model pemahaman tentang

Tuhan. Barbour mencoba memetakan hubungan sains

dengan agama. Menurutnya, antara sains dan agama

terdapat empat varian hubungan: konflik,

independensi, dialog, dan integrasi. Dalam

hubungan konflik, sains menegasikan eksistensi

agama dan agama menegasikan sains. Masing-masing

hanya mengakui keabsahan eksistensinya. Dalam

hubungan independensi, masing-masing mengakui

keabsahan eksistensi yang lain dan menyatakan

bahwa di antara sains dan agama tak ada irisan

satu sama lain. Dalam hubungan dialog, dia

mengakui di antara sains dan agama terdapat

kesamaan yang dapat didialogkan antara para

ilmuwan (saintis) dan agamawan (teolog).

Dalam buku ini, Barbour mengkaji apakah sains

kontemporer dapat memberikan ‘kunci’ yang akan

membuka rahasia (gaib) dari pertanyaan besar yang

telah menarik perhatian umat manusia selama ribuan

tahun. Ia mengeksplorasi eksistensi Allah (God)

dan evolusi, genetika dan kodrat manusia,

neurosains dan inteligensi buatan; serta teologi,

etika, dan lingkungan.

Dengan memetakan cara bagaimana teori dari

ilmuwan, seperti Charles Darwin, Stuart Kauffman,

Arthur Peacocke, Alfred North Whitehead, Terrence

Deacon, Claude Levi-Strauss, Paul Tillich, James

Watson, dan Keith Ward, Barbour telah mengubah

konsepsi kita tentang alam semesta. Ia menempatkan

penemuan para ilmuwan ini ke dalam konteks bersama

dengan tulisan para filsuf, seperti Plato, Rene

Descartes, David Hume, dan Immanuel Kant.

Pemikiran sains kontemporer hingga teologi klasik

dari para ilmuwan ini dicoba dipertemukan dan

dipertentangkan satu sama lain dalam buku yang

cukup memikat ini. Kesimpulannya yang mengejutkan

kita adalah bahwa alam semesta bukanlah produk

sampingan minor dari kekuatan tanpa pikiran dan

tujuan. Kita sungguh berarti ada di sini. Dengan

menggunakan sains kontemporer, kita dapat

menemukan realitas Tuhan.

Menemukan Tuhan

Sebuah majalah di Amerika pernah menyatakan dalam

headline: Astronomers Discover God! (Para Astronom

Menemukan Tuhan!). Subyek artikel itu adalah Big

Bang (Dentuman Besar) dan kemajuan mutakhir dalam

pemahaman tentang penggalan waktu dari jagad raya.

Fakta penciptaan itu sendiri dipandang memadai

untuk mengungkapkan makna pernyataan: Tuhan

menyebabkan penciptaan? Mungkinkah memahami

penciptaan tanpa Tuhan?

Model biblikal tentang Allah adalah analog yang

ditarik dari satu ranah pengalaman untuk

menafsirkan peristiwa di dalam ranah pengalaman

lain. Dalam Alkitab (Injil), ada pelbagai ragam

model Allah. Dalam Kitab Kejadian, Allah

dilukiskan sebagai perancang maha tahu yang

memenangkan keteraturan (cosmos) atas kekacauan

(chaos).

Teks biblikal lain melukiskan-Nya sebagai seorang

perajin tanah liat yang sedang membentuk sebuah

barang (Yeremia 18:6; Yesaya 64:8) atau arsitek

yang membangun fondasi untuk sebuah bangunan (Ayub

38:4). Allah dibayangkan sebagai Tuhan dan Raja,

yang memerintah baik atas alam maupun sejarah.

Dalam Perjanjian Baru, Allah mencipta melalui

Firman (Yohanes 1), sebuah istilah yang menyatukan

ide Ibrani akan Firman Ilahi yang aktif dalam

dunia dan pandangan Yunani akan firman (logos)

sebagai prinsip rasional.

Kaum muslim memahami bahwa kegaiban Allah

menyangkut salah satu sifat utama dan fundamental

Allah. Kitab suci Al-Quran secara tegas dan

deterministis–misalnya QS.10:101–memerintahkan

umat manusia untuk mengkaji secara sistematis,

cermat, dan sabar terhadap fenomena alam semesta.

Allah Swt. berfirman: “Allah Pencipta langit dan

bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan)

sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan

kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia.” (QS.2:117)

Semua ini adalah variasi yang kaya dari pelbagai

ragam model Allah, yang masing-masingnya merupakan

analog parsial dan terbatas, yang secara

imajinatif menggarisbawahi cara pandang partikular

akan relasi Allah dengan dunia (hlm. 228).

Pandangan ortodoks berpendapat bahwa Tuhan itu

bukan zat. Logika ilmiah–sebagaimana pernah

diungkap Friedrich Nietzsche, Clarke, Leibniz,

Hume, Kant, dan Russell–menyatakan hanya ada tiga

jenis zat, yakni zat padat, cair, dan gas. Selain

itu tidak ada lagi. Tetapi ada sesuatu yang bukan

zat yang selalu digunakan untuk memikirkan

sesuatu, yaitu “pikiran” itu sendiri. Adakah yang

mampu menggambarkan seperti apa wujud pikiran itu?

Jika tidak ada, artinya ada “zat” yang tidak

terbentuk zat seperti yang kita kenal.

Menurut para teolog, kehidupan merupakan mukjizat

tertinggi dan kehidupan manusia merepresentasikan

pencapaian yang teranugerahkan dari rancangan

induk kosmis Tuhan. Bagi ilmuwan, kehidupan adalah

fenomena paling menarik dalam alam semesta.

Seratus tahun yang lalu, pokok persoalan tentang

asal usul dan evolusi sistem kehidupan menjadi

‘medan pertempuran’ bagi bentrokan terbesar antara

sains dan agama sepanjang sejarah kontemporer.

Teori evolusi Charles Darwin mengguncang fondasi

doktrin Kristen dan lebih dari ungkapan lain

apapun sejak Nicolaus Copernicus menempatkan

Matahari pada pusat sistem tata surya. Konsep ini

menyadarkan orang kebanyakan terhadap konsekuensi

berjangkauan jauh dari analisis ilmiah. Sains

kontemporer, demikianlah tampaknya, dapat mengubah

keseluruhan perspektif manusia tentang diri dan

relasinya dengan jagad raya.

Bibel menyatakan secara eksplisit bahwa kehidupan

merupakan akibat langsung dari aktivitas Tuhan. Ia

tidak muncul secara alamiah sebagai akibat proses

fisik yang ditegakkan setelah penciptaan langit

dan Bumi. Sebaliknya, Tuhan memilih untuk

menghasilkan–melalui kekuasaan

ketuhanan–mula-mula tumbuh-tumbuhan dan binatang,

kemudian manusia. Tentu saja mayoritas umat

Kristiani dan Yahudi mengakui hakikat alegoris

dari “Kejadian” dan tidak berupaya membela versi

Bibel dari asal-usul kehidupan sebagai fakta

historis.

Fisika Kuantum

Ide tentang Tuhan Sang Pencipta, yang menyebabkan

jagad raya dari kehendak bebas-Nya, berakar kuat

dalam budaya Yudeo-Kristiani. Namun, kita telah

melihat bagaimana asumsi semacam itu memunculkan

problem lebih banyak ketimbang yang dapat

diselesaikannya. Kesulitannya melibatkan persoalan

tentang hakikat waktu dan ruang.

Jika waktu tercakup dalam jagad raya dan tunduk

pada hukum fisika kuantum (quantum physics), ia

harus dimasukkan dalam jagad raya yang Tuhan

diduga telah menciptakannya. Tetapi apakah artinya

mengatakan bahwa Tuhan menciptakan waktu, dalam

kaitan dengan pemahaman suatu sebab harus

mendahului efeknya? Kausasi adalah aktivitas

temporal. Waktu harus telah eksis sebelum sesuatu

dapat disebabkan. Gambaran naif tentang Tuhan yang

eksis ‘sebelum’ jagad raya jelas absurd jika waktu

tidak eksis–jika tidak ada ‘sebelum’.

Argumen kontingensi akan jatuh menjadi korban

kesuksesannya sendiri, seandainya kita memperluas

definisi “jagad raya” yang mencakup Tuhan. Lalu,

apakah penjelasan untuk Tuhan secara total plus

jagad raya fisik yang mencakup ruang, waktu, dan

materi? Para teolog akan menjawab: “Tuhan adalah

wujud ‘niscaya’, tanpa memerlukan penjelasan.

Tuhan memuat di dalam diri-Nya penjelasan tentang

eksistensinya sendiri.” Jika itu demikian, mengapa

kita tidak dapat menggunakan argumen yang sama

untuk menjelaskan jagad raya: Jagad raya

‘niscaya’, ia memuat di dalam dirinya alasan bagi

eksistensinya sendiri?

Alam semesta yang kompleks tetapi teratur secara

mengagumkan ini pasti memiliki suatu sistem

pengatur yang lebih canggih dari hukum alam

semesta itu sendiri. Akan tetapi, sistem pengatur

tersebut bukan suatu pribadi yang dikenal dengan

sebutan “Tuhan” (atau God/ dalam definisi

Yudeo-Kristiani), sebab Tuhan tidak dapat menjadi

yang paling perkasa jika Dia sendiri tunduk kepada

hukum fisika kuantum mengenai waktu. Jika Tuhan

tidak menciptakan waktu karena waktu melahirkan

dirinya sendiri, tentunya Dia juga tidak pernah

menjadi pencipta alam semesta. Kedua masalah

tersebut saling bergantungan.

Sebagian ahli fisika karena terilhami oleh

simplisitas hukum fundamental yang dimiliki alam

semesta, telah berargumentasi bahwa boleh jadi

hukum tertinggi (dalam hal ini adigaya) memiliki

struktur matematis yang terdefinisi secara unik

sebagai satu-satunya prinsip fisika yang konsisten

secara logis. Katakanlah, fisika dinyatakan

‘niscaya’ sama halnya dengan Tuhan dinyatakan

‘niscaya’ oleh para teolog. Lalu, haruskan kita

berkesimpulan bahwa “Tuhan adalah fisika kuantum”

sebagaimana telah dilakukan oleh para filsuf

seperti Plato?

Apakah yang dapat menjelaskan struktur ruang-waktu

dan hukum fisika kuantum yang bahkan dapat

menghasilkan suatu dunia yang cocok untuk hidup

dan daya inteligensi? Keberatan utama Ian Barbour

atas argumentasi ini lebih bersifat teologis

daripada ilmiah. Walaupun argumen itu diterima, ia

toh hanya mengarah ke Allah versi deisme, yang

merancang-bangun alam semesta ini, lalu

meninggalkannya berjalan sendiri-dan bukan Allah

versi teisme yang terlibat secara aktif dalam

dunia dan hidup manusia (hlm. 35).

Kalau kita mengandaikan bahwa “Allah mengendalikan

semua ketidaktentuan,” kita dapat mempertahankan

ide tradisional tentang predestinasi. Ini lebih

merupakan determinisme teologis daripada fisikal,

sebab tidak ada sesuatu apa pun yang terjadi

secara kebetulan.

Sebuah pendapat alternatif mengatakan bahwa

sebagian besar peristiwa kuantum terjadi secara

kebetulan, tetapi “Allah memengaruhi beberapa di

antaranya” tanpa melanggar hukum statistik dari

fisika kuantum. Pandangan ini pun sesuai dengan

bukti ilmiah (hlm. 83).

Sayangnya, pemikiran genial dari penulis buku

Menemukan Tuhan ini dibatasi hanya pada teologi

Kristen. Karena itu, buku ini dilengkapi pula

dengan Pengantar dari sudut pandang (konsepsi)

keimanan Islam yang ditulis Armahedi Mahzar,

ilmuwan ITB Bandung.

Keimanan Islam kepada Tuhan sebagaimana ditegaskan

Nabi SAW: “Dia (Allah SWT) satu; Dia nyata

sekaligus gaib, pertama sekaligus terakhir, tak

ada bandingan dan tak ada yang menyamai.” Dan

Al-Quran menegaskan, “Tuhan kami adalah Tuhan yang

telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk

kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.”

(QS.20:50)

Konsepsi tentang Allah adalah inti dari seluruh

keimanan, ajaran, dan praktik dalam doktrin

keislaman. Pilar penyangga segenap bangunan Islam.

Dengan konsepsi ini, kita dapat mengukur apakah

dalam kehidupan ini pandangan, pemahaman,

penilaian, dan sikap kita tentang kejadian alam

semesta sudah benar atau masih menyimpang dari

kebenaran. Konsepsi ini juga menetapkan batas

kualitas kemanusiaan kita. Setidaknya upaya

menyeimbangkan dengan konsepsi Islam–memadukan

sains kontemporer dan agama ala Ian

Barbour–melalui buku ini telah diupayakan,

walaupun sangat sedikit dan dangkal.

Buku ini, selain merupakan dialog sains

kontemporer dengan agama, diharapkan dapat membuka

arah baru bagi dialog lintas-agama. Melalui buku

ini, kita diajak berekreasi bersama logika dan

nalar untuk mengetahui dan memahami eksistensi

Tuhan yang sebenarnya. Tidak berlebihan jika karya

Profesor Ian Barbour ini menjadi rujukan penting

dalam menemukan konsepsi Tuhan, dan memandu

pembaca mencapai puncak ilmu.

Syafruddin Azhar, pengamat perbukuan dan editor

pada PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Sumber Asli:

TUHAN ADALAH FISIKA KUANTUM ?

Judul buku : Menemukan Tuhan dalam Sains

Kontemporer dan Agama

Penulis : Ian G. Barbour

Penerbit : Mizan

Copyright Tempo 2005

Edit : BASisme1484

Filed under: My Write, , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Visitor Online

Blog Stats

  • 84,009 hits

RSS Up Date News

RSS Lowongan Kerja Terbaru

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

antivirus 2009

My Polling

%d bloggers like this: